Tabloid On Line
07/09/2010
Advertisement
Home > Realita
Realita
Musik Tong-Tong “ Gita Kalenang “ Menggoyang Bumi Rafflesia - Bengkulu PDF Cetak E-mail
13/08/2010
Masih segar diingatan saya, tangal 1 Juni 2010 rombongan Delegasi Kesenian berangkat dari Kantor Dinas Pariwisata Pukul 07.00 Wib menggunakan Bus Pariwisata mengantarkan 45 orang Tim kesenian menuju Provinsi Bengkulu (yang dikenal dengan “ BUMI RAFFLESIA”. Adapun Tim Kesenian tersebut dibagi terbagi menjadi 2 Group. Group 1 berasal dari Musik Tong - Tong “ Gita Kalenang “ Pimpinan H. Biyanto yang berasal dari Desa Leggung, Kecamatan Batang - Batang.

Musik Tong - Tong ini pada Tahun 2009 berhasil meraih juara pertama tingkat Regional di Jember. Untuk itu dikesempatan Pawai Ta’aruf MTQ XXIII Tingkat Nasional yang berlangsung di Provinsi Bengkulu, maka Provinsi Jawa Timur mendaulat agar Musik Tong - Tong dari Kabupaten Sumenep mewakili untuk tampil sebagai Tim Kesenian Pembuka di Pawai Ta’aruf. Tim ke 2 berasal dari Sanggar Tari “ Bumi Joko Tole “ Pimpinan Taufikurrahman.

Sepertinya tidak asing lagi nama beliau di Sumenep karena seringnya sanggar tari tersebut membawa harum nama Kabupaten Sumenep. Adapun yang akan kita persembahkan nantinya musik tradisional Tong - Tong diiringi dengan tarian modern. Ada sekitar 7 lagu yang akan disuguhkan pada pembukaan Pawai Ta’aufMTQ XXIII Tingkat Nasional di Bengkulu.

Perjalanan satu hari satu malam sudah kita lalui melewati jalur Pantura. Siang hari sekitar pukul 14.00 Wib kita tiba dipenyeberangan Merak - Baka hueni. Perjalanan Laut ini memakan waktu +  3 jam untuk sampai dipelabuhan Bakahueni.

Sekitar Pukul 17.00 Wib kita tiba di Pelabuhan Bakahueni,  Kota pertama yang kita masuki adalah Lampung. Yah....setelah perjalanan yang melelahkan kita masih harus melalui jalur berbukit yang tidak pernah habis. Menjelang Subuh rombongan sholat ditepi hutan yang sepiiii sekali masih di daerah hutan di Provinsi Lampung. Perjalanan Masih harus dilanjutkan menuju Provinsi Bengkulu.

Singkat cerita Pukul 24.00 kita tiba di Bumi Rafflesia - Provinsi Bengkulu dijemput oleh Panitia Besar MTQ menuju Hotel Idaman yang berlokasi di Jalan Semangka. Setelah kita Check In dan Makan malam (boleh dibilang makan sahur ya jam 12.00 Malam) Panitia MTQ membagikan kamar untuk peserta dan dipersilahkan untuk istirahat karena besok siang kita dijadwalkan akan tampil di pembukaaan Pawai Ta’aruf MTQ XXIII Tingkat Nasional Tahun 2010.

Persembahan Pembuka Pawai Ta’aruf MTQ XXin Tingkat Nasional di Provinsi Bengkulu

Setelah semalam kita beristirahat, pagi hari kita prepare untuk pentas di Pawai Ta’aruf. Diawali dengan sarapan pagi, para penari berbenah dengan berdandan dan sedikit gladi bersih. Seiring sejalan Group Musik Tong - Tong pun breafing mengatur posisi dilapangan.

Tepat Pukul 14.00 kita tiba didepan Kantor Pokes Provinsi Bengkulu. Sekitar 33 Mobil Hias dari seluruh Indonesia menghiasi jalan - jalan protokol yang ada di Bengkulu. Dihiasi dengan hujan yang rintik - rintik udara Bengkulu yang tadinya panas berubah menjadi basah. Hujan berhenti sesaat ketika rombongan Delegasi Tim Kesenian sudah mulai memasuki Garis Start.

Iringan musik Tong - Tong yang rancak khas Madura yang riuh diiringi dengan gemulainya tangan penari - penari yang cantik, menambah warna jalannya pembukaan Pawai Ta’aruf MTQ XXIII Tingkat Nasional di Bengkulu.

Harum Bumi Rafflesia yang semula hening bergoyang ketika Delegasi Tim Kesenian Jawa Timur melewati jajaran tempat duduk Undangan yang dibuka oleh Menteri Agama RI dan Ibu Indah Surya Dharma Ali didampingi Bapak Gubemur Bengkulu dan Ibu Diah Nurwiyanti Agusrin. Semua rombongan disaksikan dengan penduduk ikut bergoyang mengikuti alunan Musik Tong - Tong.

Ketua Musik Tong - Tong H.Biyanto mendapat Topi penghormatan khas Bengkulu dari Menteri Agama RI. Perjalanan Pawai Ta’aruf diperkirakan sepanjang 15 Km yang berakhir di Pantai Panjang. Sepanjang jalan Group Musik Tong - Tong silih berganti menyajikan lagu satu persatu dan sang penari memblokade jalanan protokol dengan menunjukkan kebolehannya beradu dengan musik.

Sungguh diluar dugaan......... semalam jalanan yang kita lalui di provinsi Bengkulu sunyi sepi....kini berubah jadi lautan manusia.

Dari anak – anak sekolah dasar, pegawai kantoran Bank BNI, Mandiri, Ibu - ibu, Bapak - Bapak, sampai anak kecil ikut turun kejalan bergoyang. Sesekali saya dengar ada ibu - ibu yang berkata “ oooo ini dari Modoro “ (Madu ra) karena logat mereka kebanyakan menggunakan huruf 0.
Saya Cuma bisa senyum sambil ikut berjoget mengajak para penonton ikut berjoget juga. Bapak Dani Dari Dinas Pendapatan Provinsi Bengkulu yang bertugas mendampingi Tim Kesenian dari Jawa Timur berbisik kepada saya “ Waduh Ibu Diah, saya gak nyangka antuisme warga Bengkulu begitu senang menyaksikan penampilan dari Jawa Timur. Moga - moga kita dapat juara “ saya Cuma tersenyum sambil berkata “ Aminnnn.

Jalanan naik turun, berkelok - kelok, hujan, tak diperdulikan oleh masyarakat untuk terus menyaksikan jalannya Pawai Ta’aruf. Kadang para penonton ikut pula mendorong kereta Kuda terbang yang diusung Tim Kesenian Musik Tong - Tong Jawa Timur seakan mereka ikut meringankan beban agar acara tetap berlangsung. Pukul 19.00 Wib semua Tim kesenian usai sudah menunaikan tugas mengikuti Pawai Ta’aruf MTQ. Badan yang capek, lemas, lapar, terobati dengan antusias masyarakat yang mengelu -elukan Tim Kesenian dari Jawa Timur.

Setelah membersihkan diri dan makan malam, Malam harinya Pembukaan Malam Ta’aruf MTQ XXIII Tingkat Nasional yang dibuka oleh Menteri Agama RI dan Ibu Indah Surya Dharma Ali didampingi Bapak Gubernur Bengkulu dan Ibu Diah Nurwiyanti Agusrin bertempat di Sport Centre Pantai Panjang.

Esoknya hari Sabtu kita mengadakan City Tour Kota Bengkulu. Mulai dari membeli oleh –oleh  Khas bengkulu, mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu, sampai dengan pembuatan batik Khas Bengkulu yang bernama Batik Basurek. Malamnya kita meninggalkan kota Bengkulu menuju Tanah Jawa.

Perjalanan yang melelahkan akan kita jumpai lagi. Kali ini melewati jalur pantai selatan yang cukup terjal, banyak hutan dan kanan kiri jurang. Tapi semua itu sirna ketika kita teringat lagi dengan tepuk riuh penonton menyambut penampilan duta seni dari Jawa Timur yang mencuri perhatian mereka dan tidak akan pernah kita lupakan.[Diah Safitri, A.Md]